Sabtu, 06 Oktober 2012

JENDERAL SOEHARTO MEMBUNUH JENDERAL A.YANI?

SEPUTAR G30 S:SOEHARTO DALANG PEMBUNUHAN JENDERAL ACHMAD YANI?



Kesaksian bekas Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama HARYA SUDIRJA bahwa
Bung Karno menginginkan Menpangad Letjen Achmad Yani menjadi presiden kedua bila
kesehatan Proklamator itu menurun, ternyata sudah lebih dahulu diketahui isteri
dan putra-putri pahlawan revolusi tersebut.

"BAPAK sendiri sudah cerita kepada kami (isteri dan putra-putri Yani - red)
bahwa dia bakal menjadi presiden.Waktu itu Bapak berpesan, jangan dulu bilang
sama orang lain", ujar putra-putri Achmad Yani : Rully Yani, Elina Yani,Yuni
Yani dan Edi Yani - Sebelumnya iberitakan dalam acara diskusi "Jakarta - Forum
Live, Peristiwa G-30S/PKI, Upaya Mencari Kebenaran" terungkap kesaksian baru,
yaitu beberapa hari sebelum peristiwa kelam dalam sejarah republik ini meletus,
Bung Karno pernah meminta Menpangad Letjen Achmad Yani menggantikan dirinya
menjadi presiden bila kesehatan proklamator itu menurun.

Kesaksian tersebut disampaikan salah satu peserta diskusi: Harya Sudirja.
Menurut bekas Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama ini, hal itu disampaikan
oleh Achmad Yani secara pribadi pada dirinya dalam perjalanan menuju Istana
Bogor tanggal 11 September 1965.

Putra-putri Achmad Yani kemudian menjelaskan,informasi baik itu sudah diketahui
pihak keluarga 2 (dua) bulan sebelum meletusnya peristiwa berdarah G-30S/PKI.
"Waktu itu ketika pulang dari rapat dengan Bu
ng Karno beserta para petinggi negara, Bapak cerita sama ibu bahwa kelak bakal
jadi presiden", kenang Yuni Yani, putri keenam Achmad Yani. "Setelah cerita
sama ibu, esok harinya sepulang main golf, Bapak juga menceritakan itu kepada
kami putra-putrinya. Sambil tertawa, kami bertanya, benar nih Pak. Jawab Bapak
ketika itu, ya", ucapnya. Menurut Yuni, berita baik itu juga mereka dengar dari
ajudan Bapak yang mengatakan Bapak bakal jadi presiden. Makanya ajudan
menyarankan supaya siap-siap pindah ke Istana. Sedangkan menurut Elina Yani
(putri keempat), saat kakaknya Amelia Yani menyusun buku tentang Bapak,mereka
menemui Letjen Sarwo Edhie Wibowo sebagai salah satu nara sumber. "Waktu itu,
Pak Sarwo cerita bahwa Bapak dulu diminta Bung Karno menjadi presiden bila
kesehatan Proklamator itu tidak juga membaik. Permintaan itu disampaikan Bung
Karno dalam rapat petinggi negara. Di situ antara lain, ada Soebandrio, Chaerul
Saleh dan AH Nasution", katanya.
"Bung Karno bilang, Yani kalau kesehatan saya belum membaik kamu yang jadi
presiden", kata Sarwo Edhie seperti
ditirukan Elina.

Pada prinsipnya, tambah Yuni pihak keluarga senang mendengar berita Bapak bakal
jadi presiden. Namun ibunya (Alm.Nyonya Yayuk Ruliah A.Yani) usai makan malam
membuat ramalan bahwa kalau Bapak tidak jadi presiden, bisa dibunuh. "Ternyata
ramalan ibu benar. Belum sempat menjadi presiden menggantikan Bung Karno,Bapak
dibunuh secara kejam dengan disaksikan adik-adik kami. Untung dan Eddy, kalau
Bapakmu tidak jadi presiden, ya nangdi(kemana - red) bisa dibunuh", kata Nyonya
Yani seperti ditirukan Yuni. Lalu siapa pembunuhnya ?

Menurut Yuni, Ibu dulu mencurigai dalang pembunuhan ayahnya adalah petinggi
militer yang membenci Achmad Yani. Dan yang dicurigai adalah SOEHARTO. Mengapa
Soeharto membenci A.Yani ? Yuni mengatakan,sewaktu Soeharto menjual pentil dan
ban yang menangkap adalah Bapaknya. "Bapak memang tidak suka militer
berdagang.Tindakan Bapak ini tentunya menyinggung perasaan Soeharto.

Selain itu, usia Bapak juga lebih muda, sedangkan jabatannya lebih tinggi dari
Soeharto", katanya. Sedangkan Rully Yani (putri sulung) yakin pembunuh
Bapaknya adalah prajurit yang disuruh oleh atasannya."Siapa orangnya, ini yang
perlu dicari", katanya.Mungkin juga, lanjutnya, orang-orang yang tidak suka
terhadap sikap Bapak yang menentang upaya mempersenjatai buruh, nelayan dan
petani. "Bapak dulu kan tidak suka rakyat dipersenjatai. Yang bisa
dipersenjatai adalah militer saja", katanya. Menurut dia,penjelasan bekas
tahanan politik G-30S/PKI Abdul Latief bahwa Soeharto dalang G-30S/PKI sudah
bisa menjadi dasar untuk melakukan penelitian oleh pihak yang berwajib. "Ini
penting demi lurusnya sejarah. Dan kamipun merasa puas kalau sudah tahu dalang
pembunuhan ayah kami",katanya.

Dia berharap, kepada semua pelaku sejarah yang masih hidup bersaksilah supaya
masalah itu bisa selesai dengan cepat dan
tidak menjadi tanda tanya besar bagi generasi muda bangsa ini.

DENDAM SOEHARTO

Kesaksian istri dan putra-putri A.Yani bahwa Bapaknyalah yang ditunjuk Bung
Karno untuk jadi presiden kedua menggantikan dirinya,dibenarkan oleh bekas
Assisten Bidang Operasi KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Marsekal Madya (Purn)
Sri Mulyono Herlambang dan ajudan A.Yani, Kolonel (Purn) Subardi.

Apa yang diucapkan putra-putri Jenderal A.Yani itu benar. Dikalangan petinggi
militer informasi tersebut sudah santer dibicarakan. Apalagi hubungan Bung
Karno dan A.Yani sangat dekat, ujar Herlambang. Baik Herlambang maupun Subardi
menyebutkan, walaupun tidak terdengar langsung pernyataan Bung Karno bahwa dia
memilih A.Yani sebagai presiden kedua jika ia sakit, namun keduanya percaya
akan berita itu.

"Hubungan Bung Karno dengan A.Yani akrab dan Yani memang terkenal cerdas,
hingga wajar jika kemudian ditunjuk presiden",kata Herlambang. "Hubungan saya
dengan A.Yani sangat dekat,hingga saya tahu betapa dekatnya hubungan Bung Karno
dengan A.Yani",ujar Herlambang yang saat ini sedang menyusun buku putih
peristiwa G-30S/PKI.

Menyinggung tentang kecurigaan Yayuk Ruliah A.Yani (istri A.Yani), bahwa dalang
pembunuh suaminya adalah Soeharto,Herlambang mengatakan bisa jadi seperti itu.
Pasalnya 2 (dua) bulan sebelum peristiwa berdarah PKI, Bung Karno sudah
menunjuk A.Yani sebagai penggantinya.

Tentu saja hal ini membuat iri orang yang berambisi jadi presiden.Waktu itu
peran CIA memang dicurigai ada, apalagi AS tidak menyukai Bung Karno karena
terlalu vokal. Sedangkan Yani merupakan orang dekat Bung Karno. Ditambahkan
Herlambang, hubungan A.Yani dengan Soeharto saat itu kurang harmonis. Soeharto
memang benci pada A.Yani. Ini gara-gara Yani menangkap Soeharto dalam kasus
penjualan pentil
dan ban. Selain itu Soeharto juga merasa iri karena usia Yani lebih muda,
sementara jabatannya lebih tinggi.

Terlebih saat A.Yani menjabat Kasad, Bung Karno meningkatkan status kasad
menjadi Panglima Angkatan Darat. "Dan waktu itu A.Yani bisa melakukan apa saja
atas petunjuk Panglima Tertinggi Soekarno, tentu saja hal ini membuat Soeharto
iri pada A.Yani. Dijelaskan juga, sebenarnya mantan presiden Orde Baru itu
tidak hanya membenci A.Yani,tapi semua Jenderal Pahlawan Revolusi.
D.I.Panjaitan dibenci Soeharto gara-gara persoalan pengadaan barang dan juga
berkaitan dengan penjualan pentil dan ban. Sedangkan kebenciannya terhadap MT.
Haryono berkaitan dengan hasil sekolah di SESKOAD. Disitu Soeharto ingin
dijagokan tapi MT.Haryono tidak setuju. Terhadap Sutoyo, gara-gara ia sebagai
oditur dipersiapkan untuk mengadili Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan
ban itu.

Menurut Subardi, ketahuan sekali dari raut wajah Soeharto kalau dia tidak
menyukai A.Yani. Secara tidak langsung istri A.Yani mencurigai Soeharto.
Dicontohkan, sebuah film Amerika yang ceritanya AD disuatu negara yang begitu
dipercaya pemerintah, ternyata sebagai dalang kudeta terhadap pemerintahan itu.

Caranya dengan meminjam tangan orang lain dan akhirnya pimpinan AD itulah yang
menjadi presiden. "Peristiwa G-30S/PKI
hampir sama dengan cerita film itu", kata nyonya Yani seperti ditirukan
Subardi.***