Selasa, 26 Juni 2012

Inspirasi dan motivasi memulai usaha dengan modal pas-pas an

Berikut ane sharing sebuah cerita singkat mengenai "Memulai Wirausaha dengan Modal Seada-adanya"...pasti banyak dari agan-agan yang bingung kan dan sering nemuin maslah kaya gini kan:

Inspirasi dan motivasi memulai usaha dengan modal pas-pas an



Wirausaha itu bisa dijalani dengan modal seada-adanya. Apa yang dipunya, itu yang dijadikan modal. Jika uang tidak ada, kepandaian bisa menjadi modal. Jika kepandaian pas-pasan, harta benda bisa menjadi modal. Pengalaman bisa dicari, kebiasaan bisa dijalani, kemampuan bisa dipelajari. Yang penting niat dan keberanian (termasuk keberanian untuk malu dan malu-malu-in :-) )

Saat saya mulai berwirausaha, saya tak punya harta benda. Ada sih tapi itu punya keluarga, bisa-bisa saya disepak keluar gara-gara ngabisin banda kalau sampai berani menggadaikan harta keluarga :-D

Satu-satunya kemampuan yang saya miliki adalah mengajar private. Mengajar private itu termasuk murah dan mudah karena tidak modal apa-apa, bahkan ruanganpun bisa pakai punya klien :-) . Yang susah itu mencari korban pertama untuk menjadi klien kita, hehehe… Kalau ada yang sulit mendapatkan klien, bisa kok kita menjadi pengajar ditempat kursus/private lain. Misalnya di tempat saya di Excellent :-) . Uang yang masuk dari private bisa saya belikan komputer sebagai modal utama. Dari komputer kemudian berkembang ke lain-lainnya.

Ceritanya saya tulis di 2 artikel dibawah ini :

Perjalanan Wirausaha : Dari Operator Produksi Hingga Bisnis Implementasi Sistem Server & Training
Tuhan Maha Tahu Tapi Ia Menunggu

Saat saya hendak membuat badan hukum PT, saya tidak punya pengalaman dan pengetahuan apa-apa tentang PT. Saya browsing ke internet mencari tahu soal syarat-syarat pendirian PT. Saya tanya ke rekan-rekan yang lebih tahu soal seluk beluk badan hukum. Beda CV dan PT dan juga mengenai pajak.

Kalau kata peribahasa, mungkin bisa dibilang saya membuat PT dengan modal dengkul. Saat membuat proposal pertama kali saya membuatnya demikian adanya. Saya ketawa kalau melihat proposal pertama saya. Pada bagian daftar klien, saya mencantumkan nama perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja, supaya daftarnya tidak terlalu pendek. Coba, apa jadinya kalau di daftar klien hanya tertulis 1 klien saya. Mungkin calon klien akan berpikir, "Wah, ini sih belum teruji, bisa-bisa saya menjadi perusahaan ujicoba berikutnya"

Diawal saya mengerjakan segala-galanya. Saya belajar mendesain invoice, PO, kartu nama dan bahkan pola penulisan alamat di proposal. Saya juga ganti-ganti jabatan, karena toh secara prinsip saya jadi manajer, saya direktur dan saya juga office boy. Ada yang sempat komentar, "Mas, apa nggak keberatan jabatannya managing director?", saya jawab ya saya terima komentarnya dengan baik. Pada kenyataannya posisi saya memang berganti-ganti :-) . Kan nggak apik juga kalau saya tulis jabatan saya "Office Boy" atau "Ordinary People" :-D

Saya juga belajar soal potongan pajak PPN dan PPH. Saya terbata-bata waktu diterangkan bahwa payment yang ditransfer akan dipotong PPH sekian persen kalau saya punya NPWP dan dipotong PPH lebih rendah kalau punya NPWP. Rasanya kalau ada yang ngomong soal pajak, respon saya cuma satu dan sejenis : "inggih pak. Iya pak. Baik pak". Respon yang khas karena saya nggak tahu apa-apa soal pajak. Kalaupun saya jawab, biasanya jawaban saya standar, "Pokoknya begini pak. Bagaimanapun pola perhitungannya, saya minta full amount. Saya minta ditransfer sekian".

Ternyata ada istilah lagi, namanya gross up. Kalau mau uang yang ditransfer nilainya full amount (utuh tanpa ada potongan), di proposal dan invoice nilainya harus disesuaikan terlebih dahulu. Jadi belakangan saya lebih prefer langsung saya include biayanya sudah termasuk PPN dan PPH.

Ada banyak pengalaman konyol, mulai dari nyasar ke kantor klien, persiapan terburu-buru, kelabakan saat harus presentasi dan lain-lain. Saya pernah presentasi di depan bule. Dia ngomong bahasa Inggris, saya menjawab bahasa Indonesia. Anehnya, dia mengerti apa yang saya sampaikan, saya juga mengerti apa yang dia katakan. Ini karena saya bisa mendengar dan memahami pembicaraan namun gagap kalau disuruh conversation, hehehe…

Saat mengalaminya kesemua hal diatas, rasanya memalukan sekali. Tapi mau bagaimana, itu kenyataan. Hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah belajar agar saya lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Saya percaya pada ucapan, "Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita".

Tetap semangat ya…

sumber: vavai.com