Senin, 14 Mei 2012

Negara ASEAN Sebagai Lumbung Pangan Dunia

[imagetag]
Produksi perikanan wilayah Indonesia

Quote:

BALIKPAPAN -- Wilayah ASEAN bagian timur diarahkan berperan menjadi lumbung pangan dunia guna mengantisipasi terjadinya krisis pangan dunia. Komitmen itu disepakati Indonesia, Malaysia, Brunei dan Filipina.

Demikian dikemukakan Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gellwynn Jusuf pada pertemuan tingkat pejabat senior sektor pertanian dan perikanan kawasan pertumbuhan ASEAN Bagian Timur (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines-East ASEAN Growth Area/BIMP-EAGA) ke-10, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (14/5/2012).

Keempat negara berkomitmen memperkuat kerja sama dalam memanfaatkan kawasan ini sebagai lumbung pangan ASEAN dan dunia. Pembangunan lumbung pangan itu untuk menjawab berbagai kepentingan serta kebutuhan semua masyarakat negara anggota melalui penguatan, perluasan, dan menjamin keberlanjutan kerja sama lintas negara.

Gellwynn mengemukakan, peningkatan kerja sama itu tidak terlepas dari berbagai kemajuan yang telah dicapai dari usulan sebelumnya, seperti proyek peningkatan produksi beras, proyek peningkatan sektor perkebunan dan proyek pengembangan rumput laut.

"Keempat negara juga optimistis bahwa strategi lumbung pangan mampu menjamin ketahanan pangan jangka panjang dalam mengoptimalkan potensi produk untuk ekspor, serta mengupayakan penghidupan yang berkelanjutan bagi petani dan nelayan," tutur Gellwynn.

Pertemuan itu juga membahas perkembangan dalam membentuk dasar realisasi Komunitas ASEAN tahun 2015, melalui integrasi ekonomi regional untuk agroindustri dan perikanan, serta kemajuan dalam pelaksanaan keamanan pangan terpadu ASEAN (AIFS).

Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengemukakan, gagasan BIMP-EAGA dalam membangun lumbung pangan untuk negara ASEAN sangat tepat, karena kebutuhan pangan menjadi sangat penting sekarang ini dan masa depan. Untuk itu, perlu upaya memfasilitasi sektor swasta agar terlibat dalam mengembangkan laju perekonomian di daerah perbatasan dari empat negara.

Kalimantan Timur sangat memperhatikan pengembangan agroindustri dan perikanan meskipun provinsi ini memiliki sumberdaya alam minyak melimpah.

Sejalan dengan sasaran lumbung pangan, KKP menargetkan produksi perikanan tahun ini sebesar 14.851.990 ton, yakni dari perikanan budidaya sebanyak 9.415.700 ton dan perikanan tangkap sebanyak 5.436.290 ton. Sebanyak empat komoditas perikanan budidaya telah ditetapkan sebagai komoditas unggulan, yaitu udang, rumput laut, patin dan bandeng. Sedangkan perikanan tangkap juga menetapkan tiga komoditas unggulan, yaitu tuna, cakalang, dan tongkol (TCT).

Wilayah Indonesia yang menjadi anggota BIMP-EAGA meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
sumber